LayarBerita, Lhokseumawe – Mantan kombatan GAM yang menamakan diri ‘Combat Pase’ menggelar deklarasi Pemilu Damai di Stadion Tunas Bangsa, Mon Geudong, Lhokseumawe, Minggu (17/3/2019).

Kegiatan yang bertujuan untuk menyampaikan pesan bahwa Aceh, khususnya Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe aman dan siap melaksanakan Pemilu 2019 itu diikuti ratusan peserta.

Koordinator Lapangan ‘Combat Pase’ Wilayah Kabupaten Aceh Utara, Burhanuddin mengatakan, pihaknya mendukung Kepolisian Daerah (Polda) Aceh dalam menjaga dan memelihara keamanan serta ketertiban di Aceh, terutama menjelang Pilpres dan Pileg pada 17 April 2019 mendatang.

“Kami yang terdiri dari mantan kombatan GAM sejumlah 250 orang yang hadir, menolak segala bentuk penyebaran paham radikal dan aksi terorisme, mendukung pihak kepolisian dalam memberantas Narkoba, serta menjaga ketertiban dan keamanan pelaksanaan emilu 2019,” ujarnya.

“Mari kita laksanakan Pemilu yang aman dan tertib, damai, berintegritas tanpa hoax, Politisasi SARA dan Politik uang,” ajak Burhanuddin.

Ia berharap melalui deklarasi Pemilu Damai dapat memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya Pemilu Damai dan Pemilu yang berkualitas.

“Aceh daerah aman dan siap menghadapi Pemilu. Hilangkan rasa ketakutan dalam momentum Pemilu 2019 mendatang,” tegasnya.

Bukti Aceh aman dan siap menghadapi Pemilu dapat dilihat dari banyaknya spanduk dari berbagai partai politik peserta Pemilu yang terpajang mulai dari kota hingga pelosok desa, ungkapnya.

Ini membuktikan masyarakat Aceh sudah dewasa dalam mengelola atau menghadapi isu-isu, khususnya  isu politik, tambahnya.

“Mari kita sambut Pemilu tahun 2019 ini dengan baik, karena sejatinya pemilihan umum adalah merupakan pesta rakyat yang bernilai demokratis, sehingga bebas dalam memilih tanpa adanya tekanan dan intimidasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” ajak Burhanuddin.

Di akhir kegiatan deklarasi Pemili Damai, ‘Combat Pase’ kembali menegaskan bahwa pihaknya siap mendukung pemerintan dan tugas-tugas Polda Aceh dalam mengatasi permasalahan seperti diskriminasi, radikalisme, pengaruh Narkoba dan berita bohong atau hoaks yang dapat menyebabkan masyarakat bingung dalam menentukan hak suara pilihannya sendiri. (rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *