LayarBerita, Sigi – Yayasan Pusaka Indonesia (YPI) bekerjasama dengan Caritas Swiss menggelar simulasi bencana alam banjir di empat desa di Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, yakni Desa Sambo, Baluase, Jono dan Wisolo, Sabtu (11/7/2020).

Koordinator Program YPI, Kristina, mengatakan, simulasi bencana tersebut bertujuan untuk melatih kesiapsiagaan kelompok siaga bencana dan masyarakat dalam menghadapi terjadinya bencana, dan diharapkan menjadi sebuah rangkaian yang bertujuan untuk  pembentukan desa tangguh bencana.

Selain itu, merupakan upaya guna meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana, terlebih yang berada di daerah yang memiliki potensi resiko gempa dan banjir, imbuhnya.

Dijelaskannya, sebelum simulasi dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan kegiatan sosialisasi hasil kajian kepada masyarakat hingga penyusunan dokumen, peningkatan kapasitas Kelompok Siaga Bencana (KSB) dalam strategi menghadapi bencana, pengetahuan sistem komunikasi dan koordinasi yang teruji pada saat bencana  dan Proses evakuasi dan manajemen posko yang teruji pada saat terjadi bencana

Lebih lanjut dikatakannya, simulasi evakuasi mandiri ini merupakan kegiatan terakhir dari rangkaian agenda tersebut. Dengan simulasi ini, diharapkan masyarakat memiliki kecakapan dalam merespon potensi bencana yang ada.

“Masyarakat lebih memahami bahwa dirinya berada dikawasan yang punya potensi bencana, Sehingga harus tetap waspada dan seandainya terjadi bencana yang pertama harus dilakukan tetap tenang  tidak perlu sampai panik, karena panik bisa menjadi bencana kedua,” kata Kristina.

Dalam simulasi itu, warga antusias mengikuti instruksi meskipun cuaca mendung. Dengan dibantu para petugas kelompok siaga bencana desa, simulasi dimulai dari bunyinya system peringatan dini bencana dengan bunyi sirene dan pemberitahuan melalui HT Walky Talk.

Warga langsung berlarian dari rumah menuju lapangan yang difungsikan sebagai tempat titik kumpul. Mereka juga melakukan koordinasi dengan petugas, masyarakat diminta untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan simulasi tersebut.

Sementara Koordinator  Pengurangan Risiko Bencna YPI, Tobrini menjelaskan, melalui kegiatan ini masyarakat diharapkan tidak hanya memahami ancaman di desa saja, tapi juga ketika berada atau beraktivitas di luar.

Warga belajar mengembangkan kerangka berpikir tentang bagaimana potensi kerawanan itu terhadap hal-hal kecil yang sebelumnya tidak dianggap sebagai sumber bencana untuk lebih diperhatikan kembali.

Selain itu, masih banyak persiapan yang harus dilakukan masyarakat agar terhindar dari bencana saat datang. Seperti memetakan jalur evakuasi dalam rumah, memetakan jalur evakuasi di luar rumah dan mencari tempat terbuka, ujar Tobrini

Camat Dolo Selatan, Ali Nurdin memberikan apresiasinya atas kepercayaan yang diberikan Pusaka Indonesia dan Caritas Swiss untuk menggelar simulasi di Kecamatan Dolo Selatan.  Ali Nurdin  berharap dengan pelatihan bisa dilakukan perencanaan penanganan bencana yang tepat oleh para pemangku kepentingan daerah dan meminimalisir jumlah korban jiwa.

“Bencana sifatnya tidak bisa diprediksi tapi bila terjadi kita harus bisa merespon dengan cepat dan tepat. Lewat penyelenggaraan simulasi ini, kami bergarap bisa memberi bekal bagi kami untuk menghadapi bencana,” ungkap Ali Nurdin

Selain BPBD Kabupaten Sigi, simulasi tersebut juga dihadiri Camat Kecamatan Dolo Selatan, Kepala Desa, NGO, Caritas Swiss, Puskemas, Tagana, Gugus Tugas Covid Kecamatan, Muspika Dolo Selatan, NGO, Kelompok Siaga Bencana dan keterwakilan masyarakat, anak-anak, disabilitas, lansia dan perempuan. (rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *