LayarBerita, Lhokseumawe – Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Lhokseumawe, bulan Juni 2020 Kota Lhokseumawe mengalami deflasi sebesar 0,07 persen. Kondisi ini terjadi lantaran adanya  penurunan harga  yang  ditunjukkan oleh  penurunan indeks pada empat kelompok pengeluaran.

Adapun 4 kelompok pengeluaran tersebut, yakni, kelompok transportasi sebesar 0,40 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,33 persen, dan perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,12 persen, kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,02 persen.

Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks atau inflasi yaitu kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan sebesar 0,28 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,07 persen. Sementara kelompok pakaian dan alas kaki; kelompok kesehatan, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya; kelompok pendidikan, dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran tidak mengalami perubahan indeks.

Tingkat inflasi tahun kalender Juni 2020 (Juni 2020 terhadap Juni 2019) untuk Kota Lhokseumawe sebesar 0,89 persen, Kota Meulaboh sebesar 1,92 persen, Kota Banda Aceh sebesar 1,97 persen. Untuk Provinsi Aceh sebesar 1,66 persen dan Nasional sebesar 1,09 persen.

Pada bulan Juni 2020 harga berbagai komoditas di Kota Lhokseumawe secara umum menunjukkan adanya penurunan. Hal ini ditandai dengan turunnya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 103,95 pada Mei 2020 menjadi 103,88 pada Juni 2020 atau terjadi deflai sebesar 0,07 persen. Inflasi tahun kalender Juni 2020 sebesar 0,89 persen dan inflasi year on year sebesar 1,08 persen.

Dari 75 jenis barang dan jasa yang mengalami perubahan harga untuk Kota Lhokseumawe di bulan Juni 2020, 41 jenis barang dan jasa menunjukkan adanya penurunan harga dan 34 jenis barang dan jasa mengalami kenaikan harga.

Beberapa komoditas di Kota Lhokseumawe yang mengalami penurunan harga pada bulan Juni 2020, antara lain: bawang merah sebesar 0,1630 persen; jeruk nipis/limau sebesar 0,1180 persen; udang basah sebesar 0,0992 persen; cabai merah sebesar 0,0884 persen; dan minyak goreng sebesar 0,0563 persen.

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada bulan Juni 2020, antara lain: daging ayam ras sebesar 0,4100 persen; ikan tongkol/ikan ambu-ambu sebesar 0,1548 persen; ikan dencis sebesar 0,1200 persen; kerang sebesar 0,0265 persen; dan ikan kembung/ikan gembung sebesar 0,0206 persen.

Dari 90 kota di Indonesia yang dipantau harganya pada Juni 2020, tercatat 76 kota mengalami Inflasi dan 14 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Kendari sebesar 1,33 persen dan yang terendah di Kota Makasar sebasar 0,01 persen. Deflasi tertinggi terjadi di kota Ternate sebesar 0,34 persen dan terendah di kota Padang Sidimpuan sebesar 0,02 persen. Secara urutan deflasi tertinggi, Meulaboh berada pada urutan ke-87, Kota Banda Aceh berada pada urutan ke-86, dan Lhokseumawe pada urutan ke-79.

Sedangkan bila dilihat dari 24 kota di Sumatera, 16 kota mengalami inflasi dan 8 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tembilahan sebesar 1,13 persen dan yang terendah di Kota Bandar Lampung sebesar 0,03 persen. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kota Meulaboh sebesar 0,19 persen dan yang terendah terjadi di Kota Padang Sidimpuan sebesar 0,02 persen. [rel]

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *